Kita Bisa Kaya Dari Singkong

TRIBUNNEWS.COM SAMARINDA, –  Rencana bisnis dari Singkong Gajah (Elephant Casava) yang ditemukan oleh Professor  Ristono di Samarinda kini bersaing di pentas international dalam ajang Lee Kuan Yew Global Business Plan Competition yang diadakan oleh Singapore Management University. Kompetisi ini sendiri bertujuan mencari ide – ide baru yang dapat menggugah dunia.

Dan tidak tanggung – tanggung, saat ini dalam kompetisi, ide Singkong Gajah masuk 6 besar dari 16 ide yang lolos ke semifinal. Dan perlu diketahui, untuk masuk tahap semifinal ini grup Singkong Gajah harus menyisihkan ratusan ide – ide bisnis lainnya yang berasal dari 75 institusi dan universitas di seluruh dunia. Namun masih ada satu tahap lagi yang harus dilalui sebelum akhirnya dipertemukan oleh Angel Investor dengan perusahaan agricultur raksasa “Wilmar” selaku sponsor tunggal kompetisi yang kemungkinan besar akan memberikan investasi penuh bagi pemenang kompetisi.

Adalah Arbiyan Christianto dan Aryo Andityo, dua mahasiswa dari Universitas Gajah Mada yang meminjam produk Singkong Gajah untuk diperkenalkan kepada komunitas internasional.

Dalam kompetisi, tim memperkenalkan Singkong Gajah dengan pendekatan korporasi. Dijelaskan dalam rencana bisnis bahwa Singkong Gajah adalah tanaman multyfungsi yang mampu mencapai break event point (titik impas) dalam jangka waktu sangat singkat. Perusahaan yang dibentuk juga akan berdasarkan konsep social corporation dan eco friendly business dimana realisasinya akan memberdayakan petani tradisional dan masyarakat desa dalam memproses Singkong Gajah menjadi produk – produk seperti tepung mocaf, biobriket, flavonoid, dan baglogs tanpa menyisakan limbah sama sekali.

Kedua mahasiswa ini menganggap bahwa Singkong Gajah memang superior dari segi apapun. Namun sangat disayangkan bahwa perhatian pemerintah dirasa masih sangat minim terhadap Singkong Gajah yang dapat memajukan kualitas hidup masyarakat itu. Oleh karena itu, perlu perjuangan ekstra keras untuk mendapatkan pengakuan dari berbagai pihak.

Prof Ristono, sekaligus pembina dalam kompetisi ini, kepada tribunkaltim.co.id Senin (19/8/2013) lebih memperinci terkait “supernya” produk temuannya ini. Dari 1 hektar sendiri, dapat dihasilkan sekitar 100 ton Singkong Gajah. Sangat jauh dari singkong tradisional yang hanya 5 – 10 ton perhektarnya. Memang selama ini, produksi singkong dapat ditingkatkan dengan bahan kimia namun sama saja akan menambah permasalahan dunia yang baru. Singkong Gajah menurut Ristiono dapat menjawab sedikitnya 4 masalah terbesar yang di hadapi dunia saat ini. Mulai dari masalah pangan, energi, kesehatan dan inilah yang selalu ditekannya kepada dua mahasiswa yang sedang berkompetisi.

“Produk apa yang ada nilai ekonomisnya, yang bisa dilaksanakan secara menyeluruh, secara orang banyak dalam waktu singkat dengan tekhnologi yang ada dulu. Itu yang perlu dipikirkan,” kata Ristono.

Untuk pangan, Singkong Gajah diolah sedemikian rupa menjadi tepung mocaf yang sangat layak untuk menggantikan tepung gandum yang ada selama ini. Untuk energi, tepung kanji dapat digunakan sebagai perekat dalam pembuatan briket batu bara (biobriket). Dan untuk kesehatan, kandungan flanovoid di Singkong Gajah juga dapat menyembuhkan penyakit kanker. Bahkan sisa dari proses produksi ini dapat digunakan sebagai media tanam (baglogs) sehingga  nyaris tanpa limbah.

Dan rencananya, Ristiono sendiri juga akan mengikuti langsung acara final pada 24 Agustus mendatang di Singapura.

“Saya ingin melihat seperti apa produk yang di tawarkan 6 finalis lainnya,” kata Ristiono.

Editor: Budi Prasetyo
Sumber: Tribun Kaltim

IMG-20130722-00345

MUARA JAWA  – Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya saat melakukan panen singkong gajah di Kecamatan Muara Jawa, Kutai Kartanegara. Awal bulan ini saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Kutai Timur, tepatnya di Desa Cipta Graha, Kecamatan Kaubun, Gubernur Awang Faroek memulai kampanye gerakan menanam singkong di Kaltim dan ternyata di Kecamatan Muara Jawa, penanaman singkong lebih luas bahkan sudah memasuki masa panen.
“Program saya dalam gerakan menanam singkong ternyata serasi dengan program masyarakat Muara Jawa. Saya berterima kasih sekali, karena masyarakat Muara Jawa ternyata sudah jauh lebih maju. Di sini juga akan segera dibangun pabrik singkong. Ini luar biasa menurut saya,” puji Awang Faroek usai melakukan panen singkong gajah yang dikelola kelompok tani Sido Rukun. Senin (22/7).
Gerakan menanam singkong terus dikampanyekan gubernur karena komoditas pertanian yang satu ini nampaknya juga memiliki prospek yang sangat cerah di masa depan dan diyakini akan membantu upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya para petani. Singkong memiliki potensi penjualan yang masih sangat terbuka di dalam negeri, maupun di luar negeri.
Singkong juga dapat diolah menjadi berbagai produk olahan lain yang memiliki nilai tambah. Diantaranya diolah menjadi tepung mocaf maupun menjadi bioethanol. Bibit dan ampas singkong  juga masih sangat potensial untuk dijual. Sebab itu lanjut   gubernur, sangat tepat jika kemudian masyarakat atau para petani juga melakukan penanaman singkong tersebut.
Gubernur Awang Faroek juga mengingatkan jajarannya agar membantu eksistensi para pengusaha dan kelompok-kelompok tani singkong. Dia minta, pemerintah kabupaten Kutai Kartanegara juga memberi perhatian besar untuk pengembangan singkong gajah ini.
“Pemkab Kutai Kartanegara harus mendukung pengembangan pertanian singkong gajah ini karena sudah pasti akan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kalau sekarang lahannya masih puluhan hektar, nanti Pemkab bisa bantu kan Bapak Wakil Bupati (HM Ghufron),” ujar Awang, berharap dukungan Wakil Bupati Kutai Kartanegara HM Ghufron yang menyertai kunjungan gubernur.
Dukungan juga diharapkan Gubernur Awang Faroek dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sekitar Kecamatan Muara Jawa dalam bentuk corporate social responsibility (CSR) berupa bantuan bibit singkong atau bantuan bibit lainnya.
“Pak Camat tolong gerakkan terus kampanye menanam singkong ini. Saya
akan tunggu cerita-cerita sukses lainnya setelah ini,” seru Awang.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kaltim H Ibrahim mengungkapkan, lahan pertanian singkong yang dipanen Senin kemarin adalah 64 hektarer dari 90 hektar lahan singkong yang  dikelola. “Singkong yang dipanen ini berusia antara 7 hingga 11 bulan. Sedangkan sisanya yang belum dipanen masih berusia 1 hingga 7 bulan,” jelas Ibrahim.
Kabar menggembirakan bagi petani karena hasil pertanian singkong mereka siap ditampung oleh salah satu perusahaan yakni PT Anugrah Prima Abadi yang akan segera mendirikan pabrik singkong di Muara Jawa. Pabrik yang akan dibangun berkapasitas 60 ton perhari dan luasan hektar yang diperlukan untuk penanaman singkong untuk memenuhi kapasitas pabrik ini seluas 200 hektare.
Ibrahim menambahkan, untuk kampanye gerakan menanam singkong, tahun ini Dinas Pertanian Kaltim setidaknya sudah menyalurkan bantuan bibit singkong kepada masyarakat tidak kurang dari 10.000 bibit singkong. “Ke depan kita akan terus menambah bantuan bibit ini agar masyarakat lebih tertarik untuk menanam singkong,”  ujar Ibrahim.
Direktur PT Anugerah Prima Abadi, Lukman Hakim yang hadir dalam panen perdana singkong gajah tersebut menegaskan pihaknya siap menampung hasil panen singkong masyarakat karena pasar ekspor singkong ke sejumlah negara masih sangat terbuka.
“Saat ini kami sudah bekerja sama dengan salah satu perusahaan China untuk pengiriman produk singkong berupa gaplek. Permintaan masih sangat tinggi,” kata Lukman.
Bukan hanya membangun pabrik pengolahan singkong menjadi gaplek yang
diekspor ke China, jika luasan singkong tertanam mencapai 3.000 hektare, Lukman menyebut pihaknya siap membangun satu pabrik lagi untuk pengolahan tepung tapioca. Satu pohon singkong gajah yang dipanen gubernur Senin kemarin menghasilkan umbi berat 30 kg,  di lokasi yang sama, Gubernur Awang Faroek juga melakukan penanaman singkong. (sul/hmsprov).

////Foto : Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak bersama Ketua DPRD Kaltim H Syahrun dan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan H Ibrahim menimbang hasil panen singkong gajah.(syaiful/humasprov kaltim)

BIBIT SUDAH TERSEDIA

Kepada Bapak/Ibu peminat bibit singkong Gajah dengan ini saya informasikan bahwa persediaan bibit sudah ada dan bagi yang berminat untuk membeli, silahkan menghubungi saya. terima Kasih

Demikian Info dari Saya, Harap Maklum

IMG-20131222-00474

IMG-20130509-00196

2012-07-08 13(1)

IMG-20130721-00341

IMG-20130418-00173Balikpapan Tengah-20130514-00211

 

 

TENGGARONG – Pabrik bioetanol berbahan baku singkong yang merupakan program corporate social responsibility (CSR) PT Indomining, diresmikan operasionalnya oleh Wakil Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) HM Ghufron Yusuf, Selasa (6/3) sore. Pabrik yang mampu menghasilkan 500 liter etanol per hari dengan Fuel Grade Ethanol (FGE) 99,5 persen itu terletak di Kelurahan Pendingin, Kecamatan Sangasanga.
Turut hadir pada peresmian itu, Kepala Bappeda Kukar Totok Heru Subroto, Kepala Disprindagkop Asmidi, Staf Ahli Bupati Otoy Usman dan Khairil Anwar, Kabag Humas dan Protokol Dafip Haryanto, dan unsur Muspika Sangasanga serta instansi terkait.
Sementara dari PT Indomining, dihadiri Chairman Toba Group Jenderal (Purn) Luhut B Pandjaitan, mantan Menkoperekonomian era Presiden Megawati Soekarnoputri, Rizal Ramli, mantan Menlu RI Hasan Wirayuda, mantan KSAD Jenderal S Bagiyo, dan jajaran direksi PT Indomining. Untuk diketahui, PT Indomining merupakan salah satu anak perusahaan Toba Group.
Ghufron Yusuf menyebut Pemkab Kukar menyambut baik pabrik biofuel ini, sebab dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengembangkan potensi lahan yang ada.
Pemkab juga berharap, kehadiran pabrik bioetanol berbahan baku singkong tersebut dapat meningkatkan ekonomi masyarakat dan sebagai penyedia lapangan pekerjaan bagi warga, khususnya di Sangasanga.
“Kami meminta perusahaan agar memercayakan penanaman singkong sebagai bahan baku pabrik bioetanol ini kepada masyarakat dan bukan justru perusahaan sendiri yang mengelola pabrik hingga melakukan penanaman. Jadi, kami berharap dengan adanya pabrik ini taraf hidup masyarakat akan lebih meningkat,” katanya.
Selanjutnya, Ghufron menyampaikan terima kasih atas partisipasi investor membuka pabrik bioetanol berbahan baku singkong itu, sebab hingga saat ini masih banyak lahan yang bisa dikelola untuk penanaman singkong.
Sementara Chairman Toba Group Luhut B Pandjaitan mengatakan, pembangunan pabrik bioetanol itu merupakan satu salah program CSR PT Indomining, sebuah perusahaan tambang batu bara yang memiliki areal konsesi di Sangasanga.
“Jadi kami akan memberdayakan masyarakat melalui kelompok-kelompok tani dengan cara memberikan penyuluhan kepada mereka dalam proses penanaman singkong kemudian hasilnya akan dibeli oleh pabrik bioetanol ini,” katanya.
Hasil pengolahan singkong menjadi etanol itu, juga akan dipasarkan kepada masyarakat sekitar.
Hingga saat ini, pabrik bioetanol yang dikelola oleh Koperasi Serba Usaha (KSU) Indo Bio Energi milik PT Indomining baru mampu menghasilkan 500 liter etanol per hari dengan kebutuhan 3,5 ton singkong. “Kami berharap pabrik ini akan menghasilkan hingga 5.000 liter etanol per hari, sehingga dapat memenuhi kebutuhan bahan bakar masyarakat di Kabupaten Kukar,” sebutnya.
Singkong yang diolah tersebut, lanjut dia, menghasilkan FGE 99,5 persen. “Jika 90 persen premium dicampur 10 persen etanol, maka akan menghasilkan Pertamax Plus sehingga kami berharap produk ini akan menjadi energi alternatif pengganti BBM. Apalagi bahan bakunya sangat mudah ditemukan dan mudah tumbuh pada daerah kering,” terang Pandjaitan.

A. SYARAT PERTUMBUHAN

1. IKLIM

  • Untuk dapat berproduksi optimal, ubikayu memerlukan curah hujan 150- 200 mmpada umur 1-3 bulan, 250-300 mm pada umur 4-7 bulan, dan 100- 150 mm pada fase menjelang dan saat panen (Wargiono, dkk., 2006).
  • Suhu udara minimal bagi tumbuhnya ketela pohon/singkong sekitar 10 derajat C. Bila suhunya dibawah 10 derajat C menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat, menjadi kerdil karena pertumbuhan bunga yang kurang sempurna.
  • Kelembaban udara optimal untuk tanaman ketela pohon/singkong antara 60 – 65%.
  • Sinar matahari yang dibutuhkan bagi tanaman ketela pohon / singkong sekitar 10 jam / hari terutama untuk kesuburan daun dan perkembangan umbinya.

2. MEDIA TANAM

  • Tanah yang paling sesuai untuk ketela pohon / singkong adalah tanah yang berstruktur remah, gembur, tidak terlalu liat dan tidak terlalu poros serta kaya bahan organik. Tanah dengan struktur remah mempunyai tata udara yang baik, unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah.
  • Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman ketela pohon / singkong adalah jenis aluvial latosol, podsolik merah kuning, mediteran, grumosol dan andosol.
  • Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk budidaya ketela pohon berkisar antara 4,5 – 8,0 dengan pH ideal 5,8. pada umumnya tanah di Indonesia ber pH rendah (asam), yaitu berkisar 4,0- 5,5, sehingga seringkali dikatakan cukup netral bagi suburnya tanaman ketela pohon.

B. PEDOMAN BUDIDAYA

a) BIBIT

  • Gunakan varietas unggul yang mempunyai potensi hasil tinggi, disukaikonsumen, dan sesuai untuk daerah penanaman. Sebaiknya varietas unggul yang dibudidayakan memiliki sifat toleran kekeringan, toleran lahan pH rendah dan/atau tinggi, toleran keracunan Al, dan efektif memanfaatkan hara P yang terikat oleh Al dan Ca.
  • Ketela pohon berasal dari tanaman induk yang cukup tua (10-12 bulan).
  • Ketela pohon harus dengan pertumbuhannya yang normal dan sehat serta seragam
  • Batang telah berkayu dan berdiameter ± 2,5 cm lurus.
  • Belum tumbuh tunas-tunas baru

b) PENGOLAHAN MEDIA TANAM

a. Persiapan, kegiatan yang perlu dilakukan sebelum pengolahan lahan adalah :

  • Pengukuran pH tanah dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus, pH meter dan atau cairan pH tester.
  • Penganalisaan jenis tanah pada contoh atau sempel tanah yang akan ditanami untuk mengetahui ketersediaan unsur hara, kandungan bahan organik.
  • Penetapan jadwal / waktu tanam berkaitan erat dengan saat panen. Hal ini perlu diperhitungkan dengan asumsi waktu tanam bersamaan dengan tanaman lainnya (tumpang sari), sehingga sekaligus dapat memproduksi beberapa variasi tanaman sejenis.
  • Luas areal penanaman disesuaikan dengan modal dan kebutuhan setiap petani ketela pohon. Pengaturan volume produksi penting juga diperhitungkan karena berkaitan erat dengan perkiraan harga saat panen dan pasar.

b. Pembukaan dan Pembersihan Lahan

Pembukaan lahan pada intinya merupakan pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar tanaman sebelumnya. Tujuan pembersihan lahan untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit yang mungkin ada.

c. Pembentukan Bedengan (Guludan)

Bedengan dibuat pada saat lahan sudah 70% dari tahap penyelesaian. Bedengan atau pelarikan dilakukan untuk memudahkan penanaman, sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Pembentukan bedengan ditujukan untuk memudahkan dalam pemeliharaan tanaman, seperti permbersihan tanaman liar maupun sehatnya pertumbuhan tanaman.

d. Pengapuran (Bila diperlukan)

Untuk menaikan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat asam / tanah gambut, perlu dilakukan pengapuran. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit/kaptan (CaCO3). Dosis yang biasa digunakan adalah 1 – 2,5 ton / hektar. Pengapuran diberikan pada waktu pembajakan atau pada saat pembentukan bedengan kasar bersamaan dengan pemberian pupuk kandang.

C. TEKNIK PENANAMAN

Penentuan Pola Tanam Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada lahan tegalan/kering, waktu tanam yang paling baik adalah awal musim hujan atau setelah penanaman padi. Jarak tanam yang digunakan pada pola monokultur adalah 80 x 120 cm.

Cara Penanaman Sebelum bibit ditanam disarankan agar bibit direndam terlebih dahulu dengan pupuk hayati MiG-6 Plus yang telah dicampur dengan air selama 3-4 jam. Setelah itu baru dilakukan penanaman dilahan hal ini sangat bagus untuk pertumbuhan dari bibit.

Cara penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung bawah stek ketela pohon, kemudian tanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian stek tertimbun tanah. Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal saja.

D. PEMELIHARAAN TANAMAN

Penyulaman

Untuk bibit yang mati/abnormal segera dilakukan penyulaman, yakni dengan cara mencabut dan diganti dengan bibit yang baru/cadangan. Bibit atau tanaman muda yang mati harus diganti atau disulam. Penyulaman dilakukan pada pagi hari atau sore hari, saat cuaca tidak terlalu panas. Penyiangan Penyiangan bertujuan untuk membuang semua jenis rumput/tanaman liar./ pengganggu (gulma) yang hidup disekitar tanaman. Dalam satu musim penanaman minimal dilakukan 2 kali penyiangan. Periode kritis atau periode tanaman harus bebas gangguan gulma adalah antara 5-10 minggu setelah tanam. Bila pengendalian gulma tidak dilakukan selama periode kritis tersebut, produktivitas dapat turun sampai 75% dibandingkan kondisi bebas gulma. Pembubunan Cara pembubunan dilakukan dengan menggemburkan tanah disekitar tanaman dan setelah dibuat seperti gundukan. Waktu pembubunan bersamaan dengan waktu penyiangan, hal ini dapat menghemat biaya. Apabila tanah sekitar tanaman ketela pohon terkikis karena hujan atau terkena air siraman sehingga perlu dilakukan pembubunan /ditutup dengan tanah agar akan tidak kelihatan. Perempelan / Pemangkasan Pada tanaman ketela pohon perlu dilakukan pemangkasan/pembuangan tunas karena minimal setiap pohon harus mempunyai cabang 2 atau 3, hal ini agar batang pohon tersebut bisa digunakan sebagai bibit lagi dimusim tanam mendatang. .

E. PEMUPUKAN

Pemupukan Secara Konvensional / Kebiasaan Petani Pemupukan dilakukan dengan system pemupukan berimbang antara N, P, K dengan dosis Urea : 135 kg, TSP/SP36 : 75 kg dan KCL : 135 kg. pupuk tersebut diberikan pada saat tanam dengan dosis N:P:K = 1/3 : 1: 1/3 atau Urea : 50 kg, TSP/SP36 : 75 kg dan KCL : 50 kg (sebagai pupuk dasar) dan pada saat tanaman berumur 2-3 bulan yaitu sisanya dengan dosis N:P:K = 2/3:0:2/3 atau Urea : 85 kg dan KCL : 85 kg. Pemupukan dengan Sistem Teknologi MiG-6 Plus Sistem pemupukan menggunakan teknologi MiG-6 Plus , dapat mengurangi kebutuhan pupuk kimia/anorganik sampai dengan 50%, adapun cara pemupukannya adalah sebagai berikut : Disarankan saat pengolahan lahan diberikan pupuk kandang pada setiap lubang yang akan ditanami bibit. Kebutuhan 5ton/ha. 3 hari sebelum tanam diberikan 2 liter MiG-6 Plus per hektar dengan campuran setiap 1 liter MiG-6 Plus dicampur/dilarutkan dengan air max 200 liter atau 1 tutup botol (10 ml) dicampur/dilarutkan dengan air sebanyak 2 liter (jumlah air tidak harus 200 liter boleh kurang asal cukup untuk 1 hektar) disemprotkan pada lahan secara merata disarankan disemprotkan pada pupuk kandang/kompos agar fungsi dari pupuk kandang/kompos lebih maksimal. Setelah 3 hari bibit / stek siap ditanam. 5 hari setelah tanam berikan campuran pupuk NPK dengan dosis Urea : 50 kg, TSP/SP36 : 75 kg dan KCL : 50 kg pada lahan 1 hektar, 1 pohon diberikan campuran sebanyak ± 22,5 gram dengan cara ditugalkan pada jarak 15 cm dari tanaman dengan kedalaman 10cm. Pemberian MiG-6 Plus selanjutnya pada saat tanaman singkong berumur 2 bulan :2 liter, umur 4 bulan : 2 liter, umur 6 bulan : 2 liter dan 8 bulan : 2 liter. Pemberian pupuk anorganik selanjutnya pada umur tanaman 60-90 hari berupa campuran pupuk N:P:K dengan dosis Urea : 85 kg, dan KCL : 85 kg. Asumsi bila 1 hektar lahan ditanam 7.500 pohon berarti 1 pohon diberikan sebanyak ± 22,5 gram dengan cara ditugalkan pada jarak 15 cm dari tanaman dengan kedalaman 10cm.

F. PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN

Kondisi lahan ketela pohon dari awal tanam sampai umur ± 4-5 bulan hendaknya selalu dalam keadaan lembab tapi tidak terlalu becek. Pada tanah yang kering perlu dilakukan penyiraman dan pengairan dari sumber air yang terdekat. Pengairan dilakukan pada saat musim kering dengan cara menyiram langsung akan tetapi cara ini dapat merusak tanah. System yang baik digunakan adalah system genangan sehingga air dapat sampai kedaerah perakaran secara resapan. Pengairan dengan system genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan berdasarkan kebutuhan.

G. WAKTU PENYEMPROTAN PESTISIDA / INSEKTISIDA

Jenis dan dosis pestisida disesuaikan dengan jenis penyakitnya. Penyemprotan pestisida paling baik dilakukan pada pagi hari setelah embun hilang atau pada sore hari. Dosis pestisida disesuaikan dengan serangan hama/penyakit, baca dengan baik penggunaan dosis pada label merk obat yang digunakan. Apabila hama dan penyakit menyerang dengan ganas maka dosis pestisida harus lebih akan tetapi penggunaannya harus hati-hati karena serangga yang menguntungkan dapat ikut mati.

Ini foto yang saya ambil hari ini

Besar batangnya selengan saya


Berat 40 kg termasuk pangkal batang

Anak saya umur 5,5 tahun


Berat 35 kg bersih setelah dilepas dari batang

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.